Minggu, 12 Mei 2013

Kerajaan Blambangan

                                                     Pura Agung Blambangan Jawa Timur


                                               Situs Macan Putih Blambangan Jawa Timur

                                                     Museum Blambangan Jawa Timur
                                           
Kerajaan Blambangan pada awalnya adalah Kerajaan yang bercorak Hindu dan merupakan Kerajaan Hindu terakhir di Pulau Jawa, didirikan pada tahun 1294 Masehi oleh Arya Wiraraja Bupati dari Madura di Lamajang ( Lumajang sekarang ini ) karena jasa-jasanya terhadap Raden Wijaya yang berhasil menggulingkan Jaya Katwang dan mengusir tentara Mongol keluar Jawa Timur, serta mendirikan kerajaan Majapahit, hal ini sesuai dengan Serat Raja Blambangan tahun 1774 Masehi, dan Serat Pararaton juga menyebut nama Arya Wiraraja dan Lamajang.

Blambangan atau Bala = Rakyat, ombo = Besar, yang berarti Kerajaan yang banyak rakyatnya merupakan kerajaan maritim pada abad ke 13 sampai abad ke 18 dengan batasnya dari Gunung Bromo Kabupaten Lumajang sampai ke Jawa bagian Timur 10 km  dari  kota Banyuwangi sekarang ini, kecuali Pasuruan, dengan Ibu Kotanya di Panarukan ( Sekarang Situbondo ) hal ini sesuai dengan cerita rakyat dan Serat Damar Wulan tahun 1815 Masehi & Serat Menak Jingga.

Menurut Serat Damar Wulan Th.1815 M & Menak Jingga, Raja-Raja Blambangan adalah ;
  1. Arya Wiraraja, sebagai Pendiri Kerajaan Blambangan Th. 1294 M di Lamajang / Lumajang.
  2. Menak Gadru, memerintah wilayah Prasada / Lumajang, disebut juga sebagai Menak Goden menurunkan Menak Lampor yang menguasai Werdati-Teposono-Lumajang. 
  3. Menak Lampor, yang menguasai Werdati-Teposono-Lumajang.
  4. Menak Sumandhe atau Bima Koncar Th. 1489 M - Th. 1500 M.
  5. Menak Pentor, Th. 1500 M - Th. 1541 M.
  6. Menak Cucu, ( Th. 1550 M - Th. 1582 M ), memerintah Candi Bang / Kedhaton Baluran, terkenal dengan sebutan Menak Jingga / Menak Jinggo dan Anaknya bernama Sontoguno.
  7. Menak Lumpat, Raja di Werdati yang disebut juga Sunan Rebut Payung mempunyai Putra bernama Menak Seruyu bergelar Pangeran Singosari Sunan Tawang Alun I menaklukan Mas kriyan dan seluruh keluarganya dibunuh.
  8. Menak Seruyu / Tawang Alun I, ( Th.1633 M - Th.1639 M ) Bergelar Pangeran Singosari , memerintah daerah Lumajang, Kedawung dan Blambangan Banyuwangi Jawa Timur, Pada masa ini tahun 1633 Kerajaan Blambangan diserang oleh Sultan Agung tetapi gagal, dan memang setelah Kerajaan Majapahit runtuh pada abad ke 15 Kerajaan Blambangan menjadi rebutan kerajaan Islam seperti Demak, Pajang, dan Mataram untuk expansi atau mengislamkan Jawa bagian timur, tetapi  selalu gagal.
Menak Seruyu bergelar Pangeran Singosari / Tawang Alun I mempunyai Putra yang bernama ;
1.   Mas Gede Buyut.
2.   Mas Ayu Widharba.
3.   Mas Lego mempunyai Putra bernama Mas Surodilogo ( Embah Kopek ).
4.   Mas Lanang Dangiran disebut juga Embah Mas Brondong, mempunyai anak bernama Mas Aji Rekso
      Negoro & Mas Danuwiryo.
5.  Mas Senopo atau Mas Kembar / Tawang Alun II, ( Th.1665 M - Th.1691 M ), memerintah 
     Kedhaton Macan Putih bergelar Susuhunan Gusti Prabu Tawang Alun II, dari 9 Raja Blambangan,   
     Tawang Alun II ini  merupakan Raja terbesar Kerajaan Blambangan dan terbanyak Istri serta Selirnya, 
     daerah kekuasaannya meliputi Jember, Lumajang, Situ Bondo dan Bali, rakyatnya hidup makmur.

Menurut Situs Umpak Songo / Sembilan Penyangga yang ditemukan di desa Tambak Rejo, VOC Belanda berusaha memutus hubungan Kerajaan Blambangan dengan Raja Bali GelGel dan Raja Mengwi, karena sulit menaklukan Kerajaan Blambangan, Voc Belanda bekerja sama dengan Kerajaan Mataran Islam dan Kerajaan Pajang juga Demak tetapi tidak berhasil.

Dengan tujuan untuk memperkuat Wilayah kekuasaan Kerajaan Blambangan, Tawang Alun II memperistri beberapa Permaisuri dan beberapa Selir yaitu ;
  1. Mas Ayu Rangdiyah ( dari kerajaan Bali ) sebagai Permaisuri.
  2. Mas Ayu Dewi Sumekar ( dari kerajaan Blater ) sebagai Permaisuri.
Pangeran Patih Sostro Negoro menikah dengan Putri Untung Suropati menurunkan Putra Pangeran Putro Mas Purbo Danurejo dan Anaknya Pangeran Agung Dupati dan dari Selirnya lahir Mas Simo / Pangeran Willis.

Anak-Anak Raja Tawang Alun II ( dari Permaisuri ) adalah ;
  1. Pangeran Kerta.
  2. Pangeran Mancanggara.
  3. Pangeran Gajah Binarong.
  4. Dalem Agung Mancapuro.
  5. Dalem Patih Sostro Negoro / Pangeran Dipati Rayi.
Anak-Anak Raja Tawang Alun II ( dari Selir ) adalah ;
  1. Mas Dalem Jurang Mangun.
  2. Mas Dalem Wilo Atmojo.
  3. Mas Dalem Wilo Kromo.
  4. Mas Dalem Wilo Ludro.
  5. Mas Dalem Wilo Tulis.
  6. Mas Dalem Wiro Luko.
  7. Mas Dalem Puger.
  8. Mas Dalem Wiyoyudo.
  9. Mas Dalem KI Jayaningrat.
  10. Mas Dalem Wiro Guno ( Pada Th.1772 di Peralat VOC ).
Pada masa akhir tahtanya, Raja Tawang Alun II mangkat dan upacara ngaben digelar, tempat kremasinya terletak 1 km dari Balai Agung Macan Putih yang mana seluruh Istri dan Selir Tawang Alun II turut membakar diri ( Mati Sati ) masuk kedalam kobaran Api Pembakaran.  
Setelah kepergian Raja Tawang Alun II Terjadi Peperangan antara Anak Permaisuri Ke I dan Anak Permaisuri Ke II, Kedhaton Macan Putih di rusak oleh Pangeran Dipati Rayi. ( Epos Kisah Damar Wulan dan Menak Jingga ).

Pangeran Agung Dupati, Th. 1736 M - Th. 1763 M ( Cucu Tawang Alun II ) yang merupakan Cucu Untung Suropati bergelar Sinuhun Gusti Prabu Danu Ningrat memerintah Kerajaan Blambangan di kedhaton Macan Putih, Selirnya melahirkan Mas Simo / Pengeran Willis.

Pada tanggal 16 Desember Th. 1771 Masehi Kerajaan Blambangan di Serang kembali oleh VOC Belanda dengan Pimpinan Jendral Van Schaar dan kerajaan Blambangan di Pimpin oleh Rempeg Jogo Pati, VOC Belanda kalah Jendral Van Chaar tewas, yang dikenal sebagai Perang Puputan dan hari serta tanggal bulan tersebut diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Banyuwangi, hal ini sesuai dengan Babad Tanah Jawi, Serat Damar Wulan dan Serat Minak Jinggo th. 1815.

Pangeran Agung Willis ( Th. 1771 M  ), disebut juga sebagai Mas Simo yang masih Kerabat dengan Kerajaan Mengwi, Bali, lahir dari Selir Pangeran Agung Dupati / Sinuhun Gusti Prabu Danu Ningrat menjadi keributan dan perebutan kekuasaan dikalangan Keraton Kerajaan Blambangan antara Putra Pangeran dari Permaisuri dengan Putra Pangeran dari Selir yaitu Pangeran Willis sehingga Kerajaan Blambangan menjadi lemah. hal ini sesuai dengan keterangan Guru Besar sejarah Dosen Universitas Gajah Mada DR. SRI MARGANA. Mei tahun 2011.

Rempeg Jogo Pati, keturunan dari Raja Bayu - Bali lahir dari Selir Susuhunan Tawang Alun II dikenal sebagai Senopati Kerajaan Blambangan yang diperintah oleh Pangeran Agung Willis juga masih kerabat kerajaan Bali ini menobatkan diri sebagai Susuhunan Jaga Patih di Rowo Bayu, yang mana sebelumnya Kerajaan Blambangan berpusat di Lateng ( sekarang Rogojampi ), Rowo Bayu berada di kaki Gunung Raung, hutan Pinus pertemuan 3 mata Air, yakni Sendang Kaputren, Sendang Wiganga dan Sendang Kamulyan.

**Pada bulan Oktober tahun 1772 VOC Belanda membalas kekalahannya Pada tahun 1771 Masehi  lalu dengan mengerahkan 1.500 Pasukan, sehingga Rakyat Kerajaan Blambangan  baik tua maupun muda hanya 8.000 orang hanya tersisa 2.000 orang saja, Kepala di Penggal dan digantungkan di Pohon - Pohon, Perang dan Pembuhunan Paling Sadis yang dilakukan Tentara VOC Belanda pada waktu itu terhadap Kerajaan Blambangan Banyuwangi Jawa Timur.
VOC Belanda Setelah berhasil menghancurkan Kerajaan Blambangan mulai menjalankan Politik De Vide Et Impera, yaitu Politik Adu Domba dari Belanda yang sangat terkenal, dengan cara mengangkat Mas Dalem Wiro Guno anak dari Selir Tawang Alun II sebagai Bupati Blambangan Pertama, dengan Gelar Mas Alit KRT Wiroguno dan pada keturunan selanjutnya Blambangan memeluk Islam yang sebelumnya memeluk Hindu sehingga Bali lepas dengan Jawa, tetapi sebagian tentara Kerajaan Blambangan ada yang melarikan diri ke Bali lewat hutan Pinus alas Purwo sekarang ini. ( Serat Kanda Abad ke 18 ).

Saat ini bekas - bekas Kerajaan Blambangan yang masih tersisa adalah ;

  1. Tembok Rejo salah satu Benteng Kerajaan Blambangan yang terletak didesa Tambak rejo.
  2. Pura Agung Blambangan didesa Tambak Rejo, 30 km Banyuwangi, Pura terbesar di Banyuwangi terdapat Umpak Songo, Nuur Tirta ( Air Suci ).
  3. Keraton Macan Putih di Kecamatan Kebat, Banyuwangi.
  4. Pura Mandra Giri Semeru Agung di Lumajang Jawa Timur.
  5. Stinggil sebagai Pos Pengawasan Pelabuhan.
  6. Sumur Tua dan Kolam di sekitar Pura Agung Blambangan.
  7. Sendang Keputren, Sendang Wiganga dan Sendang Kamulyan di Rogojampi Rowo Bayu kaki gunung Raung alas purwo Banyuwangi.
  8. Makam Kramat Mbah Rempeg Jogo Patih / Mbah Rembug di desa Bunder yang berasal dari kata Munder yaitu Buah bentuk seperti Apel dengan rasa Asam, lokasinya dekat dengan bekas Istana Tawang Alun. Makam keramat ini berbeda dengan Makam-makam keramat lainnya yang membujur Utara Selatan, tetapi Makam Kramat Mbah Rempeg bentuknya membujur Barat Timur.
  9. Situs Raja Tawang Alun yaitu Candi Puncak Agung Macan Putih dan petilasan pertapaan Tawang alun di Kebat Banyuwangi.
  10. Guci - Guci dan Gelang serta Aksesoris.
Terima kasih kepada teman-teman yang telah berkenan membaca tulisan ini, walau tulisan ini masih jauh dari sempurna, mohon maaf  bila ada kesalahan dari ejaan ini, Semoga bermanfaat.
By ; Anggulimala Putra.
( label Google ; dian makan11 )

Pustaka & Nara Sumber ;
- Purwa Sastra, Babad Wilis.
- Winarsih Arifin, Babad Sembar.
- Wiki Pedia Indonesia.
- I Made Sudjana, Nagari Tawon madu : sejarah Politik Blambangan abad ke.XVIII.
- Java's last Frontiee, Universitas Leiden, oleh DR.Sri Margana.
- Sejarah Indonesia SMA th.1973, Balai Pustaka, Jakarta.
- Dinas Pariwisata Jawa Timur.








                



4 komentar:

  1. makasi atas info'nya gan
    salam lare oseng

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buat saudara punya permasalahan ekonomi:hub aki santoro karna saya sudah membuktikan bantuan aki santoro yang berminat hub di no 0823 1294 9955 atau   KLIK DISINI 100% tembus



      Hapus
  2. saya masih bingung, dimana posisi prabu tanpo uno tanpo uni dari kedawung? (istana di desa Tambak rejo (pecahan desa tapanrejo), kalau pura agung blambangan ada di desa Tembok rejo/ ralat) yang merupakan ayah kandung gusti prabu tawangalun II, lalu bagaimana hubungan dengan salah satu raja kediri yang juga bergelar tawangalun ?,.. setahu saya Tawang alun = berhati besar, jika prabu singosari juga sebagai prabu tawangalun ?

    BalasHapus