Kamis, 25 April 2013

Riwayat Kerajaan Singosari.

                                                      Candi Singosari Malang Jawa Timur                                                    

Pada Abad ke 10 ditahun 1220  ada sebuah hutan dikaki gunung Ardjuno hidup segerombolan perampok yang dipimpin oleh seorang Pemuda bernama "Aroka" dan beroperasi didaerah karesidenan kadipaten Malang.
Pada suatu hari serombongan perampok ini bertemu dengan seorang Pertapa yang sedang menjalani tapa Brata disebuah bukit dikaki gunung Arjuno sebelah timur atau sebelah utara kota Malang sekarang ini, Sang Pertapa memberikan pencerahan  kepada anak muda tersebut dan memberi nama "Ken Arok" yang artinya dilahirkan kembali.
Ken Arok lalu meninggalkan pekerjaannya sebagai Perampok dan bekerja sebagai tukang ngurus kuda pada  Adipati / Akuwu Tunggul Ametung di kadipaten Tumapel ( sedangkan Raja dari China Dinasti Yuan menyebut Tumapel sebagai TU-Ma-Pan ) sekarang Malang Jawa Timur.
Waktu itu Tunggul Ametung sebagai kepala karesidenan kadipaten Tumapel mempunyai seorang Istri yang sangat cantik bernama kendedes dan hendak keluar Istana, sewaktu menaiki kuda tunggangannya Ken Arok melihat ada sebuah bintik hitam dipaha Kendedes Istri Tunggung Ametung itu. dan Ken Arok lalu bertanya kepada seorang Pertapa dengan jawaban bahwa yang menikahi Kendedes akan menjadi seorang raja besar, sedangkan Ken Arok baru menjadi Pengawal Sang Akuwu Tunggul Ametung.
Tertarik akan ucapan pertapa tersebut, Ken Arok mulai mengatur siasat liciknya yaitu memesan sebuah keris kepada Mpu gandring dan lalu membunuhnya karena keris yang dipesannya belum selesai dibuat, yaitu belum ada gagangnya, mpu gandring sebelum menghembuskan nafas terakhirnya mengutuk Ken Arok bahwa kerisnya itu akan memakan korban jiwa keturunannya kelak.               Dengan akal licik Ken Arok meminjamkan kerisnya itu kepada Kebo Ijo dan  lalu dengan keris Mpu Gandring tersebut Ken Arok membunuh Tunggul Ametung Sang Adipati kemudian Ken Arok menikahi Kendedes Istri Tunggul Ametung yang sedang hamil dan Ken Arok naik tachta menjadi Adi Pati Tumapel, hal ini menurut Pararaton Prasasti Kudadu dan Prasasti Mula Malurung.
Setelah berhasil menjadi Adi Pati Tumapel, Ken Arok mengangkat dirinya sebagai Raja Singosari yang berasal dari kata Singhasari dengan gelar Sri Rajasa dan melepaskan diri dari kekuasaan Kediri / Kadiri dan mengumpulkan bala tentaranya lalu menyerang Kediri yang membawahi Tumapel pada waktu itu, Kediri pada waktu itu diperintah oleh Raja Kertadjaja, dalam peperangan itu dimenangi oleh Ken Arok dari Tumapel Raja Kediri Kertadjaja tewas.
Setelah Raja Kediri Kertadjaja tewas, ken Arok memindahkan ibu Kota Tumapel - Singosari ke kediri dan dengan dukungan para Brahmana bergelar Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi dan Bhatera Siwa dari Wangsa Rajasa, berkuasa dari tahun ( 1222 - 1247 ).

                                                                    Patung Kendedes

  • Ken Arok ( Th.1222 - Th. 1247 ) selain menikah dengan Kendedes menikah juga dengan KenUmang dan mempunyai anak yang bernama Toh Djaja, sedangkan Kendedes hasil dari perkawinan dengan Tunggul Ametung mempunyai anak yang diberi nama Anusapati.     Setelah Anusapati dewasa ia diberitahu oleh Ibunya Ken Dedes, bahwa Ayah kandungnya Tunggul Ametung dibunuh oleh Ken Arok / Ayah tirinya, maka Ken Arok dibunuh oleh Anusapati, dan  Ken Arok dimakamkan di Kegenengan dalam bangun Siwa Buddha Malang Jawa Timur lalu Anusapati keturunan Tunggul Ametung naik tackhta ( Th. 1247 - Th.1249 ).
  • Anusapati ( Th.1247 - Th.1249 ) menurut Nagara Kertagama yang ditulis Mpu Prapanca, sedangkan menurut Pararaton dan Pasasti Kudadu Anusapati berkuasa pada Th.1247 - Th.1248 Kemudian dengan cara licik Anusapati tewas dibunuh oleh Toh Djaja anak kandung Ken Arok, pada acara sabung ayam, karena Anusapati senang dengan sabung ayam dan pada waktu itulah Anusapati dibunuh, dan Anusapati dimakamkan di Candi Kidal sebagai Siwa Buddha, dan Toh Djaja naik tackhta ( Th.1249 - Th.1250 ).
  •  Toh Djaja ( Th.1949 - Th.1950 ) menurut Pararaton dan Prasasti Mula Malurung, sedangkan menurut Negara Kertagama ( tulisan Mpu Prapanca ) Toh Djaja Th.1248 dan Toh Djaja tewas dibunuh oleh Mahisa Campaka anak dari Mahisa Wongateleng dalam pemberontakan dan Mahisa Wongateleng tewas dimakamkan di Gunung Bhaya sebagai Bhatara Parameswara serta selesailah balas dendam kesumat antar keturunan itu, dan cucu Tunggul Ametung Wisnu Wardhana atau Ranggawuni anak Anusapati naik tackhta ( 1250 - 1272 ).  
  • Ranggawuni ( Th.1250 - Th.1272 ) menurut Pararaton Prasasti Kudadu dan sumber Nagara Kertagama, setelah naik kesinggah sana bergelar Sri Djaja Wisnuwardhana dan mengangkat Mahisa Cempaka sebagai Ratu Angabhaya dengan gelar Narasinghamurti serta memindahkan Ibu kota kediri ke Kutaraja dan Ranggawuni Sri Djaja Wisnuwardhana mangkat dimakamkan di Candi Jago sebagai Buddha Amogapura dengan Arca Amoghapase dan diteruskan oleh anaknya yang bernama Kerta Negara. 
  • Kerta Negara ( Th. 1272 - Th.1292 ) menurut Pararaton dan Prasasti Kudadu, dan menurut Negara Kertagama yang ditulis Mpu Prapanca dari Th.1268 - Th.1292. adalah Raja terakhir Singosari dengan Gelar Sri Maharaja Diraja Sri Kertanegara.
  •  Pada masa ini Kerta Negara banyak menaklukkan Negara diluar jawa, diantaranya Kerajaan Melayu, Daha, Campa, sehingga pasukannya berkurang dan banyak diluar jawa, dan pada kesempatan ini besannya Kerta Negara sendiri yaitu Bupati Kerajaan Gelang-gelang Jaya Katwang menyerang Kediri, maka Sri Maharaja Diraja Sri Kerta Negara tewas oleh Djajakatwang dan tamatlah riwayat kerajaan Singosari. Kerta Negara dimakamkan di Candi Singosari sebagai Siwa Buddha ( Bairawa ) Arcanya dikenal dengan nama Joko Dolog sekarang berada ditaman Simpang Surabaya Jawa Timur.         
   Semoga bermanfaat..! By Anggulimala Putra.

Referensi Sumber & yang berhubungan
Dinas Pariwisata Kab. Malang Jawa Timur, Pararaton, Prasasti Kudadu, Prasasti Mula Malurung, Nagara Kertagama, Candi Singosari, Candi Sumber awan, Candi Jago, Candi Kidal, Arca Djoko Dolok, Arca Ken Dedes, Arca Amoghapasa, Pav.Jawa Timur TMII.

                                                                                  
                                                                                                       
                                                                                                                                                                         
                                                                                                   

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar